KISAHMAXIMAL

Rutinitas

20 Sep 2026 · Part 2 dari 3 · 10 menit baca

Cahaya biru monitor lagi-lagi jadi satu-satunya penerangan di apartemen, dan lagi-lagi Alfin duduk di depannya dengan ritme yang sama seperti malam-malam sebelumnya — punggung tegak, jari-jari yang bergerak stabil di atas keyboard, dengungan pelan kipas laptop mengisi keheningan ruangan yang sebagian besar tenggelam dalam gelap. Bedanya, malam ini dia tidak sedang membongkar bug. Dia sedang menyusun slide untuk rapat evaluasi minggu depan — pekerjaan yang seharusnya lebih ringan dari debugging, tapi tetap dia perlakukan dengan kehati-hatian yang sama, seolah tidak ada perbedaan derajat kepentingan antara memperbaiki logika sistem dan menyusun kalimat presentasi.

Dia memilah data dari log sistem tiga minggu terakhir: jumlah bug yang berhasil ditutup, waktu rata-rata penyelesaian tiket, proyeksi linimasa untuk fitur presensi yang sempat mundur seminggu. Setiap angka dia periksa dua kali sebelum dimasukkan ke slide, bukan karena curiga ada yang salah, tapi karena itu caranya bekerja — presisi bukan pilihan, itu satu-satunya cara dia tahu. Dia bahkan menghitung ulang persentase penurunan bug dari dua sumber data yang berbeda, memastikan keduanya menghasilkan angka yang sama sebelum berani menuliskannya di slide sebagai fakta.

Dia menyusun urutan argumen di kepalanya sebelum menyentuh keyboard: mulai dari yang paling meyakinkan (penurunan bug, delapan puluh persen dari bulan lalu), lalu masuk ke fitur baru yang sedang dikembangkan, ditutup dengan linimasa yang realistis supaya tidak ada ekspektasi berlebihan dari pihak sekolah. Ini pola yang sudah dia kuasai sejak proyek pertama — kerangka presentasi yang bisa dia adaptasi untuk klien mana pun, tinggal ganti angkanya, tinggal sesuaikan istilah teknisnya dengan tingkat familiaritas audiens.

Untuk fitur presensi yang mundur seminggu, dia menyiapkan dua versi penjelasan — satu untuk kalau ada yang bertanya detail teknis (masalah di integrasi dengan sistem absensi sidik jari yang sudah ada), satu lagi untuk kalau pertanyaannya cuma soal dampak praktis (tidak akan mengganggu jadwal pelatihan guru yang sudah direncanakan). Dia menulis kedua versi itu lengkap, meski tahu kemungkinan besar cuma satu yang akan dia pakai.

Air putih di gelasnya nyaris tidak berkurang. Dia terlalu asyik menyusun kalimat demi kalimat, memastikan setiap klaim di slide bisa dia pertanggungjawabkan kalau ada yang bertanya lebih jauh — kebiasaan lama sejak dia belajar bahwa jawaban yang tidak lengkap selalu mengundang pertanyaan susulan yang lebih menjebak, sesuatu yang dia pelajari dari pengalaman pahit di proyek kliennya yang pertama, bertahun-tahun lalu, ketika dia menjawab asal dan berakhir dengan rapat susulan yang jauh lebih lama dari yang seharusnya.

Satu jam kemudian, semuanya selesai. Dia membaca ulang seluruh slide dari awal, mencari celah yang mungkin terlewat — tidak ada. Rapi, terstruktur, siap dipakai, dengan cadangan jawaban untuk hampir semua pertanyaan yang bisa dia bayangkan akan muncul.

Dia bersandar ke kursi, meregangkan punggung, dan untuk sepersekian detik ada catatan kecil yang lewat di kepalanya: ini terlalu gampang. Dulu, di proyek-proyek awal kariernya, menyusun presentasi semacam ini bisa menyita dua sampai tiga jam — dia akan bolak-balik mengecek ulang setiap klaim, ragu apakah datanya cukup meyakinkan, kadang menulis ulang seluruh kerangka argumen dari nol karena merasa versi pertama kurang kuat, kadang sampai begadang sampai jam dua pagi cuma untuk memastikan satu grafik terlihat cukup meyakinkan. Sekarang, satu jam sudah cukup, dan hasilnya tetap sama rapinya, kalau bukan lebih rapi.

Dia tidak menganggapnya sebagai tanda apa-apa yang perlu dikhawatirkan. Ini cuma pengamatan yang lewat begitu saja, seperti menyadari jalan yang biasanya macet ternyata lancar — sedikit aneh untuk diperhatikan, tapi tidak butuh dipikirkan lebih jauh dari itu. Mungkin dia memang sudah semakin terampil. Mungkin otaknya sudah menemukan jalan pintas yang efisien tanpa mengorbankan kualitas, hasil dari mengerjakan hal serupa berkali-kali sampai polanya terekam dengan sendirinya. Tidak ada alasan untuk mencurigai itu sebagai sesuatu yang salah.

Dia menutup laptop lebih awal dari biasanya. Malam itu terasa longgar, bukan padat — dan untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu, dia membiarkan dirinya menikmati longgarnya itu tanpa mencari pekerjaan lain untuk mengisinya, cuma duduk sebentar di kegelapan sebelum akhirnya beranjak tidur.


Punggung yang semalam duduk tegak berjam-jam di depan tiga layar terasa pegal di sisi kanan begitu bangun pagi ini — posisi yang sama persis dengan cara duduk waktu berkonsentrasi penuh. Sebelum benar-benar bangkit dari kasur, ada jeda singkat, tubuh yang sama menyesuaikan diri dulu, meregangkan otot yang kaku sebelum dipakai dengan cara yang lebih santai hari ini, langkah yang lebih ringan, bahu yang lebih longgar.

Lobi Wirandika ramai sekali siang itu. Beberapa kelompok murid berlarian membawa kertas karton besar, spidol warna-warni, dan gulungan kertas krep — persiapan lomba mading antar kelas yang, dari suara riuhnya, sudah dimulai sejak pagi. Lantai keramik lobi sampai terlihat kotor oleh serpihan kertas dan sisa lem yang menetes dari beberapa kelompok yang terlalu terburu-buru.

Pak Yono menembak duluan dari balik meja resepsionis begitu Alfan masuk, suaranya nyaris tenggelam oleh keributan di sekitarnya, tapi tetap keras dan penuh semangat seperti biasa.

"Wah, telat dikit nih, Mas Alfa. Macet?"

"Ban bocor, Pak. Untung deket bengkel." Alfan menepuk dahi, pura-pura kesal, lalu tertawa sendiri melihat betapa absurdnya alasan itu terdengar kalau diucapkan keras-keras. "Ada apa hari ini, ramai amat sampai kedengeran dari luar gerbang?"

"Lomba mading antar kelas. Rame anak-anak wara-wiri bawa kertas karton, spidol berceceran di mana-mana." Pak Yono menggeleng, tapi jelas menikmati keributan itu — matanya mengikuti sekelompok anak yang lewat sambil berdebat soal warna latar mading mereka, salah satunya nyaris menabrak tiang bendera saking tidak melihat jalan. "Ke ruang admin dulu aja, Bu Sari yang mau ngasih data absensi bulan ini buat cross-check sama sistem."

"Siap, Pak. Eh, ada kabar liga apa hari ini, Pak? Kayaknya udah mulai mepet-mepet akhir musim, ya?"

Pak Yono langsung antusias, seolah pertanyaan itu justru yang dia tunggu sejak pagi. Dia bahkan meletakkan pulpen yang sedang dia pegang, bersandar ke kursinya dengan gaya orang yang serius mau cerita panjang. "Wah, pas banget ditanya, Mas! Liga Spanyol kelar duluan, juaranya udah ketauan dari dua pekan lalu, sisa liganya tinggal formalitas doang. Italia sama Jerman juga gitu, tinggal ngitung hari."

"Lah kalau gitu nggak seru dong sisanya, Pak?"

"Nah, ini dia — giliran Liga Inggris yang bikin saya susah tidur, Mas." Pak Yono menggeleng-geleng sambil mendecakkan lidah, seperti sedang membahas masalah pribadi yang serius. "Sisa laga tiap tim beda-beda, ada yang tinggal dua, ada yang masih tiga karena kemarin sempat ketunda. Juaranya kayaknya baru ketauan pas laga paling akhir musim ini."

"Wah, tegang juga ya, Pak, kalau gitu."

"Tegang banget, Mas! Bapak saya dulu yang ngajarin nonton bola dari zaman kaset Betamax aja bilang, jarang-jarang liga seketat ini sampai pekan terakhir." Pak Yono tertawa bangga, menepuk dadanya sendiri. "Kalau nanti udah kelar, saya kabarin duluan siapa juaranya, Mas, biar nggak usah nyari-nyari sendiri."

"Siap, Pak, ditunggu kabarnya." Alfan tertawa sebelum akhirnya melangkah ke ruang tata usaha, meninggalkan Pak Yono kembali sibuk mengarahkan anak-anak yang berlarian membawa properti mading, sesekali berteriak "pelan-pelan, jangan lari di lorong!" ke sekelompok murid yang terlalu bersemangat.


Ruang tata usaha lebih sepi dari lobi, meski tetap ada suara mesin fotokopi yang berdengung di sudut ruangan, sesekali disertai bunyi macet kertas yang membuat salah satu staf mengumpat pelan sambil membuka penutupnya. Bu Sari duduk di meja paling ujung, dikelilingi tumpukan map warna-warni yang tersusun dengan cara yang cuma dia sendiri yang paham logikanya — merah untuk urgent, kuning untuk menunggu tanda tangan, hijau untuk yang sudah selesai tapi belum diarsipkan.

"Mas Alfa, ini rekap bulan Juli." Dia menyerahkan setumpuk kertas tanpa berhenti mengetik di layar komputernya, matanya tetap fokus ke layar sambil tangannya menyodorkan kertas dengan gerakan yang sudah otomatis. "Ada beberapa yang manual masih, belum masuk sistem — guru-guru yang lupa absen digital, jadi saya catat manual di buku dulu, biar nggak ilang datanya."

Alfan menerima kertas itu, membolak-baliknya sekilas. Beberapa lembar penuh coretan tangan yang lumayan sulit dibaca, hurufnya miring dan terburu-buru seperti ditulis sambil berjalan.

"Ini tulisan siapa, Bu? Kok kayak kode rahasia," Alfan bertanya sambil menyipitkan mata ke salah satu lembar, mencoba menerka satu kata yang bisa jadi "izin" atau bisa juga "sakit", dia tidak yakin.

"Pak Hadi itu. Guru Fisika. Jalannya cepet, tulisannya juga cepet — jadinya berantakan gini." Bu Sari tertawa kecil, akhirnya berhenti mengetik dan menoleh ke Alfan, melepas kacamata bacanya sebentar untuk mengusap matanya yang lelah. "Kapan ya sistemnya bisa baca tulisan tangan guru-guru yang berantakan begini? Ada yang tulisannya kayak resep dokter, saya sampe harus tanya dua kali baru ngerti maksudnya apa. Kemarin ada yang saya kira nulis 'cuti', ternyata 'rapat' — beda jauh kan artinya."

"Belum sampai situ, Bu. Tapi dicatat — nanti saya sampaikan ke tim, siapa tau bisa dipikirin fitur OCR ke depannya," jawab Alfan, dan dia tidak perlu berbohong soal "tim" itu — itu bagian dari naskah yang sudah lama dia jalani tanpa perlu berpikir lagi, sesuatu yang terasa alami baginya seperti menyebut nama sendiri.

"Amin deh kalau bisa. Kasian juga saya tiap akhir bulan harus jadi detektif tulisan tangan." Bu Sari tertawa lagi, lalu kembali fokus ke layarnya, jarinya kembali mengetik cepat.

Dia menghabiskan sisa siang di sudut ruang tata usaha, mencocokkan data manual dengan yang sudah masuk sistem satu-satu, sesekali harus bolak-balik bertanya ke Bu Sari soal singkatan yang tidak dia pahami.

Di tengah kesibukan itu, Bu Retno muncul dari pintu sambil menenteng toples plastik besar berisi kastengel dan nastar, langsung menghampiri satu-satu meja di ruang tata usaha sebelum berhenti di sudut tempat Alfan duduk.

"Mas Alfa! Kebetulan banget, cobain ini dulu, sisa arisan kemarin." Dia mengangsurkan toples itu tanpa menunggu jawaban, matanya sudah berbinar menunggu reaksi.

Alfan mengambil satu keping kastengel, langsung menggigitnya. "Wah, ini yang Ibu bikin sendiri, kan? Kemarin sempat cerita lagi coba-coba resep baru buat lebaran nanti."

Bu Retno tertawa lebar, tampak senang diingat. "Loh, kok masih inget, Mas? Itu saya cerita udah dua minggu lalu."

"Ya inget dong, Bu, keju-nya berasa banget ini, beda sama yang dijual di toko." Alfan mengambil satu lagi tanpa diminta, membuat Bu Retno makin sumringah dan buru-buru menyodorkan toplesnya lebih dekat.

"Wah, kalau gitu nanti saya bawain lagi tiap kali ke sini deh, Mas."

"Jangan dijanjiin gitu, Bu, nanti saya nagih tiap minggu," Alfan menyahut sambil tertawa, dan Bu Retno ikut tertawa, menepuk lengannya pelan sebelum akhirnya berlalu ke meja lain, masih menawarkan toplesnya ke siapa saja yang dilewatinya, minimal dua biji katanya, "biar afdol."

Pak Hadi sendiri lewat tak lama setelahnya, jalannya secepat yang digambarkan Bu Sari, nyaris menabrak pintu saking terburu-burunya — padahal, setelah ditanya, dia mengaku tidak sedang buru-buru ke mana pun, cuma memang begitu caranya berjalan sejak dulu.

Semua mengalir tanpa hambatan berarti. Tidak ada satu momen pun yang membuat Alfan harus berpikir lebih dari beberapa detik sebelum merespons — obrolan ringan, tawa kecil, ingatan-ingatan sepele tentang orang-orang ini yang datang tanpa dia perlu berusaha mengingatnya, seolah semua informasi itu sudah tersimpan rapi di suatu tempat yang selalu siap diakses kapan saja dibutuhkan.


Malam turun lagi, dan tangan yang tadi siang sibuk memilah kertas serta menyapa satu-satu orang kini diam sejenak di atas keyboard sebelum mulai mengetik — jeda kecil yang bahkan tidak disadari sebagai jeda, cuma bagian dari ritme yang sudah biasa dijalani.

Data dari Bu Sari sudah masuk semua ke sistem malam itu, dicocokkan satu-satu tanpa perlu usaha berlebih — ingatan yang sama soal siapa memberi data apa, kertas mana yang tulisannya paling sulit dibaca (punya Pak Hadi, ternyata, ironis untuk orang yang selalu terburu-buru meski katanya tidak). Tidak ada yang istimewa untuk dicatat, dan justru itu yang membuat malam ini terasa ringan, seperti hari kerja yang selesai tanpa drama, tanpa satu pun anomali yang perlu dipikirkan lebih jauh.

Ada satu hal kecil yang terselip di ujung pikiran sebelum laptop ditutup: rasa "terlalu mudah" yang muncul semalam saat menyusun presentasi. Dipertimbangkan sebentar — bukan sebagai masalah, cuma pertanyaan kecil yang belum sempat dijawab. Mungkin memang begini rasanya ketika sesuatu sudah dikuasai sepenuhnya, ketika bertahun-tahun latihan akhirnya membuahkan efisiensi yang dulu terasa mustahil. Tidak ada alasan untuk mencurigainya lebih jauh dari itu — toh hasilnya tetap baik, tetap rapi, tidak ada yang berkurang dari kualitas kerjanya.

Gelas diletakkan di sudut kanan atas meja seperti biasa, pegangan menghadap kanan, dan malam itu berakhir tanpa catatan tambahan — cuma rutinitas lain yang berjalan seperti seharusnya, satu lagi dalam rangkaian hari-hari yang belum tahu akan segera berubah, satu lagi malam tenang sebelum minggu yang akan membawa kursi kosong di ujung meja rapat itu terisi untuk pertama kalinya.