Jam di sudut layar menunjukkan pukul sebelas lewat empat puluh dua menit, tapi Alfin tidak benar-benar melihatnya. Dia melihat diagram di layar tengah. Bentuk kotak-kotak yang mewakili modul, garis-garis yang mewakili alur data di antaranya dan satu garis yang, kalau dia jujur pada dirinya sendiri, sudah dia tatap terlalu lama untuk sesuatu yang seharusnya sederhana.
Cahaya biru dari tiga monitor adalah satu-satunya yang menerangi apartemen. Di belakangnya, sofa dan rak buku yang berantakan tenggelam jadi bentuk-bentuk gelap tanpa detail. Dia menyesap air putih dari gelas yang sudah setengah kosong sejak entah kapan, meletakkannya kembali persis di sudut kanan atas meja, pegangan menghadap kanan, tanpa berpikir sama sekali soal kenapa dia melakukan itu. Itu bukan kebiasaan yang dia sadari. Itu cuma tempat gelas itu berada. Dia menyukainya karena itu simpel, satu jenis minuman, tidak ada yang perlu diputuskan soal itu.
Proyek ini untuk sekolah baru yaitu klien ketiga tahun ini, sistem manajemen nilai dan presensi yang katanya "harus bisa dipakai guru yang gaptek", kalimat yang selalu bikin dia diam-diam menghela napas karena artinya separuh waktunya akan habis untuk antarmuka, bukan logika. Tapi logikanya yang sekarang justru jadi masalah. Modul penjadwalan otomatis punya satu kasus di mana dua guru bisa saja terjadwal di kelas yang sama, di jam yang sama, dan sistemnya tidak seharusnya membiarkan itu. Tetapi entah kenapa, di satu percabangan tertentu, dia lolos.
Dia menelusuri ulang logikanya dari awal. Bukan karena panik. Justru sebaliknya, ini bagian yang paling dia nikmati, ketika sesuatu tidak align dan dia harus menemukan persisnya di mana. Tidak ada jam yang mendesak selain tenggat internal yang dia pasang sendiri. Tidak ada orang lain yang menunggu jawabannya malam ini. Dia mengulang evaluasi variabel satu per satu, pelan, sistematis, hampir seperti ritual: kalau A dan B keduanya benar, harusnya C otomatis salah. Di baris keseratus dua puluh tiga, ada kondisi yang dia tulis dua minggu lalu yang, kalau dilihat sekarang, jelas-jelas menyisakan celah.
Dia memperbaikinya. Menguji ulang. Celahnya tertutup.
Ada kepuasan kecil yang datang setiap kali ini terjadi, tetapi bukan kepuasan karena berhasil, lebih ke kepuasan karena semuanya kembali align, kembali masuk akal, kembali di bawah kendalinya. Dia tidak butuh orang lain untuk memvalidasi itu. Validasinya ada di layar itu sendiri, yaitu kode yang jalan, tes yang hijau semua.
Tapi ada satu bagian lagi yang tidak semudah itu. Bukan soal logika, logika itu semudah membalikkan telapak tangan, tetapi soal keputusan desain. Apakah modul presensi harus terhubung langsung ke modul nilai, atau dipisah dengan lapisan perantara supaya lebih fleksibel kalau sekolah lain nanti minta struktur berbeda? Ini bukan pertanyaan yang bisa dijawab cuma dengan berpikir lebih keras. Ini butuh dia melihat bagaimana modul-modul itu benar-benar dipakai di lapangan. Bagaimana guru-guru berinteraksi dengannya, keluhan apa yang muncul, pola apa yang terlihat dari cara orang benar-benar menggunakannya, bukan cara dia membayangkan mereka menggunakannya.
Dia berhenti di titik itu. Tangannya masih di atas keyboard, tapi dia tidak mengetik apa-apa lagi.
Ini bukan sesuatu yang bisa dia selesaikan malam ini, dan dia tahu itu tanpa perlu merasa kecewa soal itu. Dia membuka file catatan terpisah, tidak bukan bagian dari kode, cuma teks polos. Kemudian dia mulai menulis, detail, hampir berlebihan:
Keputusan arsitektur modul presensi–nilai: dua opsi (lihat di atas). Butuh observasi lapangan minggu ini sebelum bisa diputuskan. Kalau kepala sekolah atau staf menyinggung soal skalabilitas ke sekolah lain, condong ke opsi B. Kalau tidak disinggung sama sekali, opsi A lebih cepat dan cukup.
Dia membaca ulang catatannya sendiri sekali, memastikan tidak ada yang ambigu, lalu menutup laptop.
Dia tidak menulis "untuk besok" di mana pun. Menulis dengan detail begini, sampai hampir berlebihan, memang caranya sendiri berpikir jernih. Ingatan soal malam ini akan tetap ada besok pagi, utuh, terbawa apa adanya, entah siapa yang bangun duluan untuk menjalaninya.
Pagi datang lewat cahaya, bukan lewat alarm. Tirai yang semalam dibiarkan terbuka membiarkan matahari masuk penuh ke ruangan yang tadi malam cuma diterangi layar, dan dengan cahaya itu, apartemen yang sama tiba-tiba terasa biasa saja, bukan lagi ruang kerja larut malam, cuma tempat tinggal seseorang yang baru bangun.
Leher yang sama yang semalam menunduk terlalu lama ke arah layar terasa pegal di sisi kiri begitu dia bangkit dari kasur dengan posisi persis yang sama dengan caranya duduk waktu berpikir keras. Dia meregangkan bahu, mendengar bunyi klek pelan di tulang belikat, dan sebentar berdiri diam di situ, membiarkan tubuh yang itu-itu juga menyesuaikan diri sebelum dipakai dengan cara yang berbeda hari ini.
Gelas air putih semalam masih di sudut meja, sudah tidak disentuh sejak entah kapan. Dia menyingkirkannya, menyeduh kopi di cangkir yang sama persis. Itu adalah kopi kombinasi baru yang dia coba minggu lalu dan ingin dicoba lagi. Layar masih menyala dari semalam, menampilkan catatan panjang dan detail soal modul presensi-nilai, dua opsi, rencana observasi lapangan. Hanya saja tidak ada satu pun dari itu yang terasa seperti berita baru. Dia sudah tahu semuanya, sama persis seperti dia tahu apa yang dia makan kemarin sore. Dia cuma melirik sekilas, memastikan tidak ada angka yang terlewat dari caranya sendiri menulis dengan rapi, penuh kualifikasi. Benar-benar tulisan khas Alfin. Satu-satunya hal yang perlu dia perhatikan hari ini: apakah staf sekolah menyinggung soal skalabilitas.
Alfan, sosok yang sekarang mengendalikan tubuh itu memakai softlens dulu, baru baju. Kaos polos, tidak jauh beda dari kemarin. Alfa hanya punya satu lemari, satu selera dasar, tidak ada yang perlu dipikirkan di situ. Dia menyambar tas kerja dan berangkat, bersiul pelan tanpa sadar sepanjang jalan menuju sekolah.
Sekolah Wirandika bukan tempat baru baginya. Dua bulan mengerjakan proyek ini, dan dia sudah hafal bau kapur bercampur pengharum ruangan yang agak terlalu manis begitu masuk lobi, sudah hafal suara langkah kakinya sendiri bergema di lantai keramik lorong. Pak Yono di meja resepsionis mengangkat kepala begitu dia masuk, langsung menembak duluan sebelum Alfan sempat bilang apa-apa.
"Semalam nonton, kan, Mas Alfa? Gimana, menang?"
"Menang, Pak, dua-satu. Injury time lagi golnya." Alfan menyeringai, mengangkat tas laptopnya sedikit. "Saya mau ke ruang Pak Darmawan lagi, presentasi progres bulan ini."
"Wah, mantap. Masuk aja, udah ditunggu tuh dari tadi."
Pak Darmawan menyambutnya dengan ramah yang sudah jadi rutin. Basa-basi soal cuaca, soal macet, sebelum masuk ke pembicaraan sebenarnya. Alfan tidak keberatan dengan basa-basi itu. Dia malah menikmatinya sedikit, cara orang ini melonggarkan diri sebelum bicara serius.
"Kirana gimana, Pak? Udah mulai betah di SMA?" Alfan bertanya sambil membuka laptop, seolah itu bagian alami dari ritual sebelum rapat, bukan sesuatu yang perlu dia ingat-ingat dulu.
Pak Darmawan tertawa kecil, menepuk meja pelan. "Betah sih betah, tapi mulai bandel, Mas. Kemarin pulang jam sembilan malam katanya ngerjain tugas kelompok. Itu ngerjain tugas apa abis lembur, ga tau saya." Dia menggeleng, tapi senyumnya tidak hilang. "Anak zaman sekarang beda ya sama kita dulu."
"Namanya juga baru kelas sepuluh, Pak. Wajar lagi nyari-nyari batas." Alfan tertawa ringan, dan itu cukup membuat Pak Darmawan tersenyum lebih lebar dari yang diperlukan untuk sekadar obrolan pembuka rapat.
Presentasinya sendiri berjalan seperti biasa. Dia menunjukkan progres modul, menjawab pertanyaan soal jadwal rilis, menjelaskan dengan bahasa yang jauh lebih sederhana dari catatan Alfin semalam kenapa fitur presensi mungkin butuh waktu tambahan seminggu. Tidak ada yang menyinggung soal skalabilitas ke sekolah lain, seperti yang jadi salah satu kemungkinan di catatan tadi pagi. Dia mencatatnya di kepala, ringan saja, seperti mencatat cuaca hari ini.
Tidak ada momen yang berat. Tidak ada pertanyaan yang membuatnya harus berpikir lebih dari beberapa detik sebelum menjawab. Semuanya mengalir seperti obrolan kecil di lorong dengan salah satu staf admin yang menanyakan kabar, tepukan pundak dari Pak Darmawan sebelum dia pamit. Hari yang, kalau dilihat dari luar, tidak ada apa-apanya. Rutinitas yang berjalan seperti seharusnya.
Sepulangnya, dia sempat mampir ke warung dekat apartemen, membeli mie instan untuk nanti malam bukan makanan favoritnya, meski dia yang akan makan itu duluan kalau lapar sekarang. Dia tidak pernah benar-benar memikirkannya sebagai "untuk siapa". Itu cuma yang ada di kulkas nanti, dan siapa pun yang lapar akan memakannya.
Malam datang lagi, dan dengan itu, lampu meja kerja jadi satu-satunya sumber cahaya sekali lagi. Ritme yang sudah berjalan begitu lama sampai tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar memperhatikannya sebagai ritme.
Tangan yang tadi siang banyak bergerak saat bicara seperti menepuk meja balas basa-basi Pak Darmawan, mengangkat tas laptop, melambai ke Pak Yono sebelum pulang sekarang diam di atas keyboard, jari-jari yang sama, cuma ritmenya yang berbeda: lebih pelan, lebih berhati-hati, seperti alat yang baru saja ditukar penggunanya.
Alfin membuka laptop. Catatan singkat sudah ada di layar, bukan laporan formal, cuma beberapa baris, ditulis dengan gaya yang jauh lebih santai dari caranya sendiri menulis: Presentasi lancar. Ga ada yang nanya soal skalabilitas sekolah lain, jadi kayaknya opsi A aman. Kepsek nanya soal timeline presensi, aku bilang mundur seminggu, dia oke aja. Kirana katanya makin susah diatur wkwk.
Tidak ada satu kata pun di situ yang informasinya baru buat dia mereka berbagi ingatan, bukan laporan yang perlu dicerna. Tapi dia membaca itu dua kali juga, bukan untuk isinya, melainkan untuk bunyinya: kalimat pendek, tanda baca yang ditinggalkan begitu saja, "wkwk" yang tidak akan pernah keluar dari caranya sendiri menulis. Ada sesuatu yang menenangkan soal mendengar hari yang sama diceritakan dengan suara yang berbeda dari suaranya sendiri, seperti rekaman suara sendiri yang nyaris tidak dia kenali. Dia membuka kembali modul presensi-nilai, memilih opsi A seperti yang sudah dia putuskan sejak tadi siang, dan mulai mengetik lagi, kali ini tanpa keraguan, karena keputusannya sudah punya dasar yang cukup.
Semuanya sesuai rencana. Tidak ada yang istimewa hari ini, dan itu bukan sesuatu yang mengecewakan. Justru itu yang dia harapkan setiap hari. Hari-hari yang berjalan sesuai jalurnya, tanpa kejutan yang tidak perlu.
Di sela-sela mengetik, satu baris di catatan itu membuatnya berhenti sebentar bukan karena informasinya baru, tapi karena cara Alfan menuliskannya, diselipkan santai sebagai catatan kaki padahal ini pertama kalinya orang itu akan benar-benar hadir:
Oh iya, minggu depan ada rapat evaluasi mingguan sama guru penanggung jawab program dari pihak sekolah. Orangnya belum pernah ketemu langsung. Selama ini komunikasi lewat Pak Darmawan doang. Kudu siapin bahan yang lebih lengkap dari biasanya kayaknya.
Dia sudah tahu soal rapat itu, sama seperti Alfan tahu mereka mengalami hari yang sama dalam tubuh yang sama. Yang membuatnya berhenti sejenak cuma satu hal kecil: seseorang yang selama ini cuma nama di belakang layar akan berdiri di ruangan yang sama dengan mereka minggu depan. Dia mencatatnya dalam pikiran sebagai hal yang perlu dipersiapkan. Satu rapat lagi, satu presentasi lagi, satu orang baru yang akan diperkenalkan ke rutinitas yang sudah berjalan mulus ini. Tidak ada alasan untuk berpikir itu akan berbeda dari rapat-rapat lain yang pernah mereka lalui.
Dia menutup laporan itu, kembali ke layar kode, dan melanjutkan malamnya seperti biasa. Dengan kode yang presisi, sendirian, dan sepenuhnya puas dengan itu.